Saya baru saja menyelesaikan buku 5 menara karya A. Fuadi. Sepertinya buku ini sudah populer sejak lama, bahkan sudah keluar edisi keduanya, "Ranah 3 Warna". Saya sangat telat, I know. Tapi itu tidak menghalangi saya untuk membuat review buku ini :D
Pernah baca Harry Potter? Pernah terpesona dengan kerennya Hogwarts dan bahkan berkhayal jadi penyihir? This book offers us something even better, even feasible to be realized.
Berkisah tentang Alif Fikri, anak cerdas dari Minang yang bercita-cita menjadi seperti Habibie, namun ditentang oleh ibunya yang idealis dan ingin dia menjadi ahli ilmu agama. Harapannya masuk SMA pupus saat ibunya terang-terangan memintanya untuk masuk pondok pesantren. Permintaan yang sulit ditolak karena ibunya yang sangat keras kepala. Merasa bimbang, Alif memutuskan untuk mengurung diri di kamar dan berharap hati orang tuanya luluh dan mengizinkannya masuk SMA. Di saat yang bersamaan, datang surat dari pamannya yang menganjurkannya untuk bersekolah di Pondok Madani (PM). Konon, pondok tersebut melahirkan lulusan-lulusan yang cerdas dan pandai berbahasa Arab dan Inggris. Setengah hati, Alif memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di PM, yang terletak di Jawa Timur. Bentuk pelampiasan kekesalannya pada orangtuanya yang tidak mengizinkannya masuk SMA.
Selanjutnya buku ini bercerita tentang kehidupan Alif di Pondok Madani. Pertemanannya dengan 5 orang temannya yang kelak dijuluki "Sahibul Menara" (yang punya menara) karena mereka senang berkumpul di bawah menara masjid. Kehidupan pondok pesantren yang jauh dari bayangan saya, bahkan menurut saya pesantren ini jauh lebih keren dari Hogwarts. Sebuah sekolah yang menawarkan kesempatan sebesar-besarnya bagi para siswanya untuk mengembangkan diri dengan berbagai sarana; mulai dari bidang olahraga, bahasa, kesenian, jurnalistik - sebut saja, saya rasa semua ekstrakurikuler ada di sini. Kalau ditanya, "terus kapan belajar agamanya?", mereka akan dengan lugas menjawab, "pelajaran agama di sini seperti oksigen. semua hal yang kita pelajari di sini adalah ibadah." - sesuatu semacam itu, karena saya sendiri juga lupa dialog aslinya :p
Ada beberapa hal yang saya anggap menarik dalam cerita masa sekolah mereka di Pondok Madani.
Pertama, metode belajar mereka. Seperti halnya siswa biasa, mereka juga belajar hal-hal menyebalkan seperti matematika. Tapi yang paling menarik di sini, mereka diwajibkan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam pembicaraan sehari- hari. Selain diajarkan secara formal, setiap hari ada seorang senior dari bagian "penggerak bahasa" datang untuk mengajarkan kosa kata baru kepada mereka. Metodenya mirip bahasa tarzan. Tunjuk bukunya, dan katakan buku dalam bahasa arab. Begitu seterusnya sampai siswanya mengerti. Saya rasa metode ini mirip dengan mengajarkan anak kecil bicara, hanya saja dalam bahasa yang berbeda. Terbukti, dalam 4 bulan siswa di sana mulai terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa sehari-hari. That's cool, I think.
Kedua, metode peraturan dan disiplin. Peraturannya tidak ditulis, hanya diperdengarkan sekali saja. Dan sekali melanggar, siswa akan dipanggil ke mahkamah. Selain dihukum, mereka bertugas menjadi jasus (mata-mata). Mereka harus mencari 2 korban yang melakukan kesalahan untuk dilaporkan ke mahkamah dalam waktu 24 jam. Agak mirip MLM saya rasa :p awalnya, sang penulis merasa tidak sreg dengan metode "cari-cari kesalahan orang" ini. Tapi kata si ustad dengan bijak, konon hal ini berguna untuk melatih sense of awareness kita, karena banyak orang sekarang semakin tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya yang semakin bobrok, padahal tugas kita sebagai sesama muslim adalah saling mengingatkan. Hmm, saat membaca bagian ini saya berusaha mengingat kapan terakhir kali saya dengan berani berkata "ini salah!".
Ketiga, mantra sakti "man jadda wajada". Siapa yang bersunguh-sungguh, akan berhasil. Cara kerjanya hampir mirip dengan frase "All is well" di film 3 idiots. Doktrin ini sepertinya sangat mengena di hati para siswanya - termasuk saya sebagai pembaca bahkan - karena para siswa di sini menjunjung tinggi kerja keras, cari ilmu sebanyak-banyaknya, dan "going for extra miles" - berusaha lebih dari orang lain. Sebuah kalimat sederhana, yang bisa membuat perubahan besar bagi diri kita.
Keempat, mereka menganggap ujian itu pesta dan belajar itu menyenangkan. Hasil dari racun "man jadda wajada" yang sudah saya jabarkan di poin sebelumnya. Saat orang seperti saya ketakutan setengah mati saat ketemu ujian dan menganggap UTS = Ujian Tidak Serius, orang-orang ini menjadikan ujian sebagai wahana mereka untuk unjuk gigi, menunjukkan sejauh mana ilmu sudah mereka pahami.
Kelima, this pesantren is not boring at all. Bahkan mereka punya kegiatan pertandingan bola rutin (yang dikomentatori dengan bahasa Arab, wow), lomba debat, bahkan pagelaran kesenian yang dikemas secara maksimal oleh para muridnya.
Sejujurnya, pendidikan di Pondok Madani inilah yang membuat saya tekun membalik-balik halaman buku ini dan menyelesaikannya dengan cepat. Saya simpulkan sekolah seperti inilah yang akan melahirkan calon pemimpin masa depan, saat seluruh waktu mereka didedikasikan untuk belajar baik ilmu maupun agama. Apakah mereka radikal? Saya rasa tidak, karena banyak dari mereka yang pergi merantau ke luar negeri setelah dari sana. Pikiran radikal itu cuma untuk orang yang dunianya selebar daun kelor :)
Cerita persahabatan dan masalah pribadi keenam orang ini tidak kalah menarik bagi saya. Tentang pergulatan batin Alif ,yang walaupun menganggap kehidupan di PM menyenangkan, masih iri dengan kehidupan sahabatnya, Randai yang masuk SMA dan melanjutkan kuliahnya di ITB. Tentang Baso, siswa dari Gowa, yang sangat berambisi untuk menjadi haafiz Qur'an agar bisa memberikan jubah kehormatan bagi kedua orangtuanya kelak di surga.
Akhir kata, untuk membuka wawasan kita tentang pendidikan islami yang ideal, saya rasa buku ini sangat tepat untuk dibaca. Selain itu, buku ini kaya akan kutipan-kutipan nasehat orang bijak yang akan segera menyetrum kita sesaat setelah membacanya.
Jadi, setelah membaca buku ini saya jadi malas malas-malasan lagi :p Man jadda wajada!
melongok rumput tetangga
9 hours ago


