Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
di mana kondisinya banyak sekali akhirnya pemuda-pemudi Indonesia yang memutuskan untuk merantau mencari ilmu dan penghasilan di negeri seberang, yang konon katanya di sanalah mereka dapat lebih dihargai dan dihormati dengan minat keprofesiannya. Bukan hanya anak ITB saja, bahkan saudara-saudara kita dari desa pun nekad mengadu nasib menjadi TKI di negeri seberang. Berapa banyak dari kita yang sudah kembali dan memberikan kontribusi kepada negara?
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
bahkan erupsi gunung merapi dan tsunami di mentawai tetap tidak menyurutkan setitik keegoisan kita. Bukannya saya melarang kita semua untuk hidup enak, tapi seberapa besar kenikmatan hidup kita yang sudah kita bagi kepada orang yang jauh lebih membutuhkan?
jika dahulu kita harus bersatu melawan penjajah yang menghancurkan negara kita dengan senjata senapan dan pendudukan daerah, siapa yang harus kita lawan sekarang? kaum-kaum ekstrimis penganut bigotri kah, yang sudah memusnahkan arti "toleransi antar umat beragama" di tanah air kita? atau perusahaan-perusahaan energi yang mengeruk kekayaan tanah air kita tanpa hasil yang berarti bagi negara kita? atau orang-orang di atas sana yang sedang sibuk belajar etika di yunani, sementara saya sendiri sering mendengar dari teman-teman berkebangsaan asing yang pernah berkunjung ke Indonesia bahwa ramah-tamah di negeri kita tiada duanya? atau mungkin diri saya sendiri, yang walaupun telah disumpah sarjana beberapa hari yang lalu masih tidak bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai sarjana?
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia
saya sudah lupa kapan terakhir kali membaca headline koran dengan ejaan yang baik. bahkan saya tidak tahu apa bahasa indonesia yang tepat dari kata "headline". terlalu banyak penggunaan bahasa asing dalam kehidupan kita. bukannya saya melarang kita semua untuk pandai berbahsa internasional, tapi saya sungguh khawatir jika generasi muda semua seperti kita, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa kita?
28 Oktober 2010. Saya tidak peduli dengan segala seminar dan freeze mob yang akan dilakukan untuk memperingati hari sumpah pemuda. Saya lebih tertarik merenunginya untuk diri saya sendiri.



0 stabs in the front:
Post a Comment